Di awal kelas 2, setiap diabsen, kami hanya menjawab seperti biasa setiap Bu Hastuti memanggil nama kita… misalnya TAP dipanggil, maka jawabnya ya hanya “ada Bu..” lalu dilanjutkan dengan yang lainnya.
Seiring berjalannya waktu, dan berkembangnya kreatifitas anak-anak Bass91, jawaban “Ada Bu” serasa membosankan, hingga akhirnya kita pun berkreasi. Diantara kita ada kesepakatan: tidak boleh memberikan jawaban yang sama setiap kali nama kita dipanggil. Kalo ada yang sama, dianggap –sama sekali – tidak kreatif.
Selanjutnya setiap diabsen, kita pun selalu menunjukkan tanggapan yang berbeda. Jawaban mulai “Wonten Bu” (wonten-Jawa=ada) … “Kulo Bu” (kulo-Jawa=saya) … “nuwun Inggih” (Jawa=ya, terima kasih) … “sendiko dhawuh(Jawa=siap, ada apa? … seperti prajurit ketoprak) … “iya ada apa?” … “what’s the matter?” … “haiyaa.. owe petai Cina”… “Keng putra Bu..” (putra-Jawa=ananda) … hingga TAP yang menjawab “Bakmine Pak Mul” ketika di absen. Bahkan si Aji sempat menjawab absen nya Bu Hastuti sambil naik meja, mungkin karena idenya sudah habis tergali. Kalo Andi lain lagi.. kalo kita-kita dipanggil pada tunjuk jari.... kalo Andi ... tunjuk ... (udah tahu arahnya kan... sekitar mulut pokoknya).
Akibatnya, di pelajaran berikutnya, setiap memulai pelajaran dan mengabsen, Bu Hastuti selalu melompati nama kita yang terlalu kreatif. Kita pun protes..”Lho Bu, saya belum dipanggil..!”
Bu Hastuti pun menjawab, “Sudah kok!”
Kita pun tetap protes … “Tapi kita belum dipanggil!!”
“Sudah, ini ada kok tandanya di buku absen” kata si Ibu.
“Lho Bu, di pelajaran ini, yang paling kami tunggu adalah ABSEN-nya!”
Dan pelajaran pun tetap berlanjut …
[sing nulis: Deny / sing ngedit: Iwan]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar